Memelihara Sikap Muraqabah

Rabu, 09 Maret 2011

Allah SWT berfirman (yang artinya): Dia selalu bersama kalian di mana pun kalian berada (QS al-Hadid: 4); Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di mata Allah, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi (QS Ali Imran: 6); Allah mengetahui mata yang berkhianat [yang mencuri pandang terhadap apa saja yang diharamkan] dan apa saja yang tersembunyi di dalam dada (QS Ghafir: 19).

Sebagian ulama mengisyaratkan, ayat-ayat ini merupakan tadzkirah (peringatan) bahwa: Allah Maha Tahu atas dosa-dosa kecil, apalagi dosa-dosa besar; Allah Mahatahu atas apa saja yang tersembunyi di dalam dada-dada manusia, apalagi yang tampak secara kasat mata.

Di sinilah pentingnya muraqabah. Muraqabah (selalu merasa ada dalam pengawasan Allah SWT) adalah salah satu maqam dari sikap ihsan, sebagaimana yang pernah diisyaratkan oleh Malaikat Jibril as. dalam hadits Rasulullah SAW, saat kepada beliau ditanyakan: apa itu ihsan? Saat itu Malaikat Jibril as sendiri yang menjawab, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Dia. Jika engkau tidak melihat Allah maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” (HR Muslim).

Prof. Azyumardi Azra : Pendidikan Islam di IAIN Adalah “Islam Liberal”

Oleh: Dr. Adian Husaini

“Sebagai lembaga akademik, kendati IAIN terbatas memberikan pendidikan Islam kepada mahasiswanya, tetapi Islamyang diajarkan adalah Islam yang liberal. IAIN tidak mengajarkan fanatisme mazhab atau tokoh Islam, melainkan mengkaji semua mazhab dan tokoh Islam tersebut dengan kerangka, perspektif dan metodologi modern. Untuk menunjang itu, mahasiswa IAIN pun diajak mengkaji agama-agama lain selain Islam secara fair, terbuka, dan tanpa prasangka. Ilmu perbandingan agama menjadi mata kuliah pokok mahasiswa IAIN.”

“Jika di pesantren mereka memahami dikotomi ilmu: Ilmu Islam (naqliyah dan ilmu keagamaan) dan ilmu umum (sekuler dan duniawiah), maka di IAIN merekadisadarkan bahwa hal itu tidak ada. Di IAIN mereka bisa memahami bahwa belajar sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, sama pentingnya dengan belajar ilmu Tafsir al-Quran. Bahkan ilmu itu bisa berguna untuk memperkaya pemahaman mereka tentang tafsir. Tetapi, IAIN tidak mengajarkan apa yang sering disebut dengan “islamisasi ilmu pengetahuan” sebab semua ilmu yang ada di dunia ini itu sama status dan arti pentingnya bagi kehidupan manusia.”

Hati-hati Produk Haram Banyak Beredar di Pasaran!!

Selasa, 22 Februari 2011

Mengerikan, inilah kata-kata yang pantas kita lontarkan saat mendapatkan informasi bahwa banyak sekali produk pangan, obat-obatan dan kosmetika yang  beredar  di pasaran, ternyata tidak dijamin kehalalannya.
Sebenarnya sejak adanya LPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia), kita merasa sedikit agak lega, karena Lembaga ini diberi wewenang pemerintah untuk menjamin kehalalan produk yang beredar. Prosedur yang dilakukan LPOM adalah meneliti produk Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika tentang kehalalannya dengan standart tertentu. Jika memang halal, akan diberi sertifikat dan label halal. Dengan demikian   memudahkan kita saat berbelanja, tinggal melihat ada label halalnya atau tidak.
Akan tetapi sekarang ternyata  tidak semudah itu, karena banyak produk yang berlabel halal ternyata haram. pelabelan halal dari LPOM MUI ini banyak dipalsukan. Sebagaimana dikatakan oleh direktur LPOM MUI, Lukmanul Hakim: ” Banyak produk dengan label halal palsu yang menipu masyarakat”. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa jumlah produk yang berlabel palsu masih cukup tinggi yaitu skitar 40 hinggga 50 persen dari 113.515 unit.. Anehnya  ini adalah produk-produk yang telah mendapat registrasi sehat dan baik dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)- Pemerintah (Republika,  21/02/2011).

KONSEP MANUSIA MENURUT PSIKOLOGI BARAT DAN PERBANDINGANYA DENGAN PSIKOLOGI ISLAM

I.PENDAHULUAN
“Apakah dan siapakah manusia?” pertanyaan klasik ini selalu menarik untuk dijawab oleh umat manusia sepanjang zaman. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berbagai filosof dan ilmuwan mencoba membangaun konsep apakah dan siapakah manusia. Dalam kenyataanya, jawaban atas pertanyaan ini selalu mengandung kelemahan karena keterbatasan manusia dalam memahami siapa dirinya dan sesamanya. Karenanya, sejumlah gugatan terhadap konsep manusia hadir dan ”berloncatan” dihadapan kita. Permasalahanya adalah mungkinkah kita akan berhasil membangun konsep manusia yang dapat memahami dan memperlakukan manusia secara benar?. Bagaimana pandangan Psikologi barat dan bagaimana pandangan islam tentang manusia.
Makalah ini mencoba menelaah bagaimana pandangan psikologi barat tentang manusia dan bagaimana pandangan psikologi islam tentang manusia.
II. PEMBAHASAN
Manusia sejak semula ada dalam suatu kebersamaan. Ia senantiasa berhubungan dengan manusia-manusia lain dalam wadah keluarga, persahabatan, lingkungan kerja, rukun warga dan rukun tetangga, dan bentuk-bentuk relasi sosial lainnya. Dan sebagai partisipan kebersamaannya sudah pasti ia mendapat pengaruh dari lingkungannya. Tetapi sebaliknya, ia pun dapat mempengaruhi dan memberi corak kepada lingkungan sekitarnya. Manusia dilengkapi antara lain dengan cipta, rasa, karsa, norma, cita-cita dan nurani sebagai karakteristik kemanusiaannya. Kepadanya diturunkan pula agama agar selain ada relasi dengan sesamanya, juga ada hubungan dengan sang pencipta.

KAJIAN ONTOLOGI ILMU DAKWAH

I.PENDAHULUAN
Dakwah dimulai sejak Nabi Adam menerima wahyu dan mengajarkanya kepada umat manusia. Dengan demikian berbicara mengenai dakwah sebagaimana berbicara mengenai usaha manusia itu sendiri, kegiatan yang dilakukan Nabi pertama dan bapak manusia itu dilanjutkan secara continue sampai Nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.
Dakwah merupakan kewajiban dan tugas bagi seorang muslim tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dakwah islam merupakan suatu usaha dan kegiatan orang beriman dalam mewujudkan ajaran islam dengan menggunakan sistem dan cara tertentu kedalam kenyataan hidup perorangan, keluarga, kelompok, masyarakat maupun negara. Dapat dikatakan pula dakwah merupakan aktivitas transformasi nilai islam kedalam realitas masyarakat.
Adapun ilmu dakwah pada hakekatnya yaitu sebuah ilmu yang menyadarkan manusia dan mengembalikan masusia pada fitrahnya, pada fungsi dan tujuan hidup manusia menurut islam. Maka ilmu dakwah merupakan ilmu tranformatif untuk mewujudkan ajaran islam menjadi tatanan khairul ummah.
Sebagai suatu ilmu pengetahuan, dakwah sudah barang tentu memiliki objek atau sasaran pembahasan tertentu, baik berupa objek material maupun objek formal. Hal inilah yang akan kami bahas dalam makalah ini.
II. PEMBAHASAN
Keapaan Dakwah
Merujuk pada makna yang terkandung dalam Alquran surat al-nahl ayat 125 dakwah islam dapat dirumuskan sebagai kewajiban muslim mukallaf, untuk mengajak dan memanggil orang berakal untuk menjalani jalan Tuhan (din al islam) dengan cara hikmah. Tujuan sikap hikmah adalah meletakan setiap perkara pada prororsinya yang tepat, serta dapat mencapai sasaran dengan mudah hanya dengan sedikit pengorbanan. Kemudian Mauzhah hasanah (supermotivasi positif), dan yang terakhir adalah mujadalah yang ahsan (cara-cara yang lebih metodelogis), dengan respon positif atau negatif dari orang berakal yang di ajak, diseru dan dipanggil disepanjang zaman dan di setiap ruang.

BARAT MESTINYA BELAJAR DARI ISLAM UNTUK MENYIKAPI KEBERAGAMAN

Senin, 21 Februari 2011

            Adalah sangat ironis ketika Sarkozy, penguasa Perancis saat ini melarang penggunaan Burqa di tempat umum setelah sejak 1994 melarang penggunaan headscarf di sekolah negeri, sementara di Indonesia sekelompok orang menamakan diri Tim Advokasi Kebebasan Beragama melakukan pengajuan Judicial Review terhadap Undang-Undang nomor 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.
Saat Perancis -bagian dari mercusuar kebebasan Barat- telah meletakkan prinsip-prinsipnya di bawah telapak kakinya sendiri, di negeri muslim terbesar ini, segelintir pemuja liberalisme Barat terus menabuh tong kosong berbunyi perlindungan kebebasan beragama.
Seandainya kejujuran menjadi sikap inti Barat dan orang-orang yang silau terhadapnya, tentu amat mudah memahami bagaimana perbedaan cara peradaban Barat dan peradaban Islam menangani keragaman. Juga sangat mudah mengakui mana diantara keduanya yang paling produktif dan solutif di dalam membangun hubungan manusia.

Selama lebih dari 13 abad peradaban Islam melalui sistem politiknya (khilafah) telah menaungi wilayah paling luas dengan suku, bahasa, warna kulit penduduk paling beragam. Melalui dakwah dan jihad, integrasi dilakukan oleh Islam secara unik dimana perkembangan corak lokal dibingkai dalam sistem dan nilai-nilai Islam. Islam tidak mengenal apa yang disebut sebagai cawan peleburan (melting pot) dan tidak pernah menunjukkan kebijakan rasialis ataupun ethnic cleansing sebagaimana yang menghiasi sejarah Barat hingga era globalisasi.

Siapakah yang berhak menentukan sebuah aliran atau paham pemikiran sesat dan tidak..?

Kamis, 17 Februari 2011

           Pertama-tama, istilah sesat, atau dalam bahasa Arabnya adalah dhalal, secara harfiah, berarti dhiddu ar-rasyâd (kebalikan petunjuk). Secara syar’i, dhalâl berarti inhirâf ‘an al-Islâm (menyimpang dari Islam) [1]. Dalam konteks ini, istilah dhalal digunakan untuk menyatakan kekufuran, sebagaimana yang banyak dinyatakan dalam nas al-Qur’an, antara lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya" (QS. an Nisa’: 136)

Karena itu, dalam persepektif syara’, dikatakan sesat, ketika paham atau aliran tersebut benar-benar menyimpang dari Islam, atau kufur. Karenanya, selama masih berpijak kepada dalil syariah atau syubhat dalil, suatu aliran atau paham tidak boleh dianggap sesat, atau kufur. Meski mungkin saja salah (khatha’).

DEMOKRASI BUKAN JALAN ISLAM MERAIH KEKUASAAN

Rabu, 16 Februari 2011

            Negara dalam pan­dangan Islam bu­kanlah organ fisik, yang terdiri atas rakyat, wilayah dan pemerintah. Tetapi, negara adalah organisme (entitas) yang menjalankan kumpulan konsep­si, standarisasi dan keyakinan yang diterima oleh umat. Karena itu, ciri khas sebuah negara pada dasarnya ditentukan oleh kon­sepsi, standarisasi dan keyakinan yang diterima dan dijalankan oleh umat. Bukan pada identitas kebangsaan, wilayah ataupun yang lain. Jika konsepsi, pema­haman dan keyakinan yang diterima dan dijalankan oleh umat itu merupakan konsepsi, standarisasi dan keyakinan Islam, maka negara tersebut disebut negara Islam.

Islam telah menetapkan bentuk negara, yang berbeda lama sekali dengan sistem yang lain. Negara itu adalah negara Khilafah. Negara Khilafah adalah negara kesatuan, bukan federasi, seperti Malaysia maupun Ameri­ka Serikat, bukan pula uni, se­perti Uni Soviet atau Uni Eropa, maupun commenwealth, seperti persemakmuran Inggris. Sistem pemerintahannya bukan sistem presidensial maupun parlemen­ter, bukan pula republik maupun monarki, tetapi sistem Kekhali­fahan yang khas. Karena Khilafah tidak dipimpin oleh presiden atau raja, tetapi dipimpin oleh seorang khalifah. Di dalamnya tidak ada parlemen, tetapi Ma­jelis Umat, dengan fungsi yang berbeda dengan parlemen.

Istimewanya Wanita Islam

Senin, 05 Juli 2010

Istimewanya Wanita Islam

Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini :

1) Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
2) Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3) Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
4) Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5) Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6) Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya.
7) talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.
8) Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.

Antara Islam dan Kekufuran

Kamis, 01 Juli 2010

 
 
 

Free Ebook Down Load

score blog

survey

 
Copyright © dakwah tiada henti